Sunday, November 4, 2012

.:: Fursan - Keinsafan Diri ::.






Hati tenang mendengarnya...betapa rimbunnya dosaku...ampunilah aku.
subhanaalllah , ya ALLAH ya maha kuasa, sungguh banyak dosa ku, malu aku padamu leka dalam keasyikan dunia mu ya allah..nikmat ini hadir untuk mengujiku, tewasnya aku dalam bisikan nafsu.



ya allah, sungguh malu aku padamu..aku setiasa melupakanmu, namun Drimu tak pernah berpaling dari mengasihiku..
ampuni aku ya allah..sungguh ak tak layak ke syurga mu..namun ak tak pernah sanggup ke nerakamu..


ampuni aku Ya ALLAH
ampuni aku Ya ALLAH
ampuni aku Ya ALLAH



sungguh ajalku ,biarlah dalam keimanan kepadamu. :'(

KAsiHkah Kita pada Baginda ???




SIAPAKAH HAMBA ALLAH YANG MULIA DI SISI ALLAH???

Dgn Nama Allah yg Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang.

Dalam sebuah riwayat hadis...

Ketika itu Baginda Nabi Muhammad s.a.w sedang duduk berkumpul bersama-sama para sahabat...
Di antara sahabat-sahabat termasuklah Saidina Abu Bakar, Saidina Omar, Saidina Uthman, Saidina Ali dan yang lain...
Lalu kemudian Baginda bertanya kepada sahabat-sahabatnya...

Wahai sahabatku, tahukah kalian...Siapakah hamba Allah yang mulia di sisi Allah?

Para sahabat terdiam... lalu ada salah seorang sahabat berkata...

Para Malaikat ya Rasulallah... merekalah yang mulia

Baginda berkata...

Ya, para Malaikat itu mulia, mereka dekat dengan Allah... Mereka sentiasa bertasbih dan beribadat kepada Allah... tentulah mereka mulia... 

tapi bukan itu yang ku maksudkan

Lalu kemudian para sahabat kembali terdiam...
Tiba-tiba salah seorang sahabat kembali berkata...

Ya Rasulallah, tentulah para Nabi...merekalah yang mulia itu

Nabi Muhammad s.a.w tersenyum... baginda berkata...

Para Nabi itu mulia...mereka adalah utusan Allah di muka bumi ini... bagaimana mungkin mereka tidak mulia...mereka mulia... tapi ada lagi yang lainnya

Para sahabat terdiam...tertanya... siapa lagi orang yang mulia...
Hingga kemudian salah seorang sahabat berkata...

Ya Rasulallah... apakah kami sahabatMu ya Rasulallah...apakah kami yang mulia itu Ya Rasul?

Baginda memandang wajah sahabatnya satu persatu... Baginda tersenyum melihat para sahabat...
Baginda berkata...

Tentulah kalian mulia...kalian dekat denganku...kalian membantu perjuanganku... mana mungkin kalian tidak mulia...tentulah kalian mulia... tapi ada lagi yang lain yang mulia

Para sahabat terdiam semuanya... mereka tidak mampu berkata apa-apa lagi...
Lalu tiba-tiba... Nabi Muhammad menundukkan wajahnya... Baginda menangis di hadapan sahabat-sahabatnya...
Para sahabat tertanya-tanya...

Mengapa kau menangis Ya Rasulallah?

Lalu Baginda mengangkat wajahnya... terlihat bagaimana air mata berlinang membasahi pipi dan janggutnya...
Baginda berkata...

Wahai saudaraku... sahabatku... tahukah kalian siapa yang mulia itu... mereka adalah manusia-manusia... mereka akan lahir jauh setelah wafatku nanti... mereka begitu mencintai Allah dan tahukah kalian... mereka tidak pernah memandangku... mereka tidak pernah melihat wajahku... mereka hidup tidak dekat dengan aku seperti kalian... tapi mereka begitu rindu kepada ku dan saksikanlah wahai sahabatku semuanya... Aku pun rindu kepada mereka... mereka yang mulia itu...merekalah umatku..

bygkn saat itu Nabi Muhammad menitiskn air matanya semua sahabat menangis..
Tlg katakn siapa yg drindukan baginda Nabi Muhammad s.a.w. Siapa yg sentiasa didoakn oleh baginda setiap waktu?

Demi Allah skrg tlg tanya dri kita msg2. Sudahkah kita mencintai Baginda Nabi Muhammad s.a.w. Tlg bygkn siapa idola kita slama ini.. 

Sudahkah ada air mata yg blenangan krn rindukan Baginda? 

Sudah berapa lama kita melupakan baginda Nabi Muhammad s.a.w.. Maka mari kita hidupkan rasa cinta kpd Baginda s.a.w. Sm0ga kelak dhari kemudian di pdg mahsyar kita akn bkumpul bsama Nabi Muhammad s.a.w.
:'(

Saturday, November 3, 2012

Don't Despair and Never Loose Hope



You know at this age (sweet 30), going out from house and meeting your girlfriends abecomes a hideous and (may be) an unpleasant business. Yes, we did enjoyed our early 20s and 30s - from schooldays to college, gallivanting around town, painting them red and had the best time of our lives with nothing to worry.
As we usher to the late 30s, each one of my friends seemed to vanish into the thin air. I know that they are only a phone call away, but they seemed like a million miles away when we are under one roof.

Talks about shoes and bags being truncated and immediately changed to EBM and breastfeeding. Chats about holidays and trips were replaced with tales about their toddlers and newborns. And you can bet on it, gushes about boyfriends being replaced by talks about husbands - one of other thing that I definitely DON'T have.
Don't get me wrong, I love them girlfriends the way there are and I'm sharing their happiness too. I get it. They are happy and want to share it with me. BUT, trying to fit in would be the most difficult thing to do. You can't expect them to hear your babble about the cute boy in your department and your work problem when they have bigger things to worry such as how they are low on their milk production, how their kids have jaundice, how they have yet to conceive etc.

Then, all of the sudden, it seemed that all our similarities gone out the window and each time I'm with them, I just zonked out and don't know what to say. They claimed I become more quiet these days. Truth is, I just don't know what else to say. I don't speak their language and they stopped speaking mine. And we're getting further and further apart. I chose to slowly get out of that community, simply because I don't think I belong.

I figured, I'd rather find a new muse for all the free times that I have now. Alhamdulillah, I found one and it's with Him. I decided to be a better Muslimah and I fell in love with that. I don't feel despair anymore, I know exactly who to turn to when I'm in dire need. As for the girlfriends, we are still good. But the 'not-fit-in' feeling are long gone now. Allah definitely doesn't pick sides and I'm blessed for that.
There must be a reason why Allah haven't granted me a husband to this very day. I just have to accept them and ask for forgiveness from the Almighty. We have to do post mortem on ourselves rather than have bad judgement to Allah on why Allah doesn't granted our prayers. First of, He is not obligated to grant them, we are His humble servant and He has all the rights to treat us the way He likes. But Allah is not cruel to us. We have to dissect, it could be the sins we have commited in the past, our relationship with our parents and others and also maybe because Allah wants us to serve our parents a bit longer.

And now I'm trying my best to become closer to Allah in every minute of my waking life. I'm sure my prayers will be granted one day and Allah knows what's the best for me. Not because He doesn't love me, simply because He loves me too much and save the best for last. I have faith in that and you ladies, should too.


So, to all my single ladies out there, quoting Maher Zain "Don't despair and never lose hope. Cause Allah is always by your side, InsyaAllah.." He's nearer than you can ever imagine. You just know how to find Him. InsyaAllah ..
"When God gives you a gift, it is so you are aware of divine kindness. When God deprives you, it is so you are aware of divine power" - Ibn 'Ata' allah RahimuAllah.



by: iluvislam



Tuesday, October 23, 2012

Sekeping hati ♥


Langit tinggi yang tadinya cerah bertukar gelap. Sekelip mata sahaja. Sekumpulan awan tebal kelihatan berarak di atas bumbung-bumbung biru universiti. Mentari yang hampir berlabuh di ufuk barat sudah tidak kelihatan. Habis sinarnya dihalang awan hitam. Sejurus kemudian, ruang angkasa institut pengajian tinggi yang dikenali sebagai Taman Budi dan Ilmu itu bertambah gelap.

Ketika petang sudah hampir tiba di penghujungnya, kelihatan ada beberapa orang muslim dan muslimah sedang duduk-duduk di ruang solat. Ada juga yang sedang membaca al-Quran.

Masjid yang terletak di tengah-tengah institut ilmu itu memang bertuah. Sentiasa 'imarah. Tidak pernah tidak ada jemaah. Rumah ibadah yang menjadi pusat pertemuan warga institut itu seringkali dikunjungi orang sekalipun penuntut-penuntutnya pulang ke tanah air masing-masing.

Perkongsian dalam pertemuan.

"Liz, ada musykilah?"

Liz mengangguk. Pelajar perempuan yang baru setahun jagung menjadi warga universiti itu tidak pernah segan mengaku ada masalah. Dia sangat terbuka. Tidak pernah berselindung.

"Masalah apa?" Saya bertanya dengan nada bersahaja. Mengajak dia untuk berkongsi.

"Kak, saya sedih. Saya sedih sebab setiap kali bersolat malam atau muhasabah, saya rasa susah nak menangis." Pelajar perempuan itu mula menyatakan masalah jiwanya.

"Kadang-kadang tu, saya sampai dah tak tahu nak buat apa lagi supaya menangis."Pelajar itu menyambung. Suaranya terketar-ketar.

"Ingatlah mati." Saya mencelah perlahan.

"Sudah. Tapi, tetap tak mampu menangis. Pernah saya minta daripada Allah ..."Bicaranya terhenti. Matanya mula berkaca-kaca. Dia diam. Menahan air mata daripada mengalir.

"Pernah saya berdoa, Ya Allah, kalau Engkau memang sudah tidak mengizinkan aku menjadi hamba yang baik, Engkau matikan sahaja aku."

'Astaghfirullah!' Spontan saya beristighfar di dalam hati. Pelajar ini kelihatan seperti sudah tidak tahan memiliki hati yang sudah tidak mampu mengalirkan air mata keinsafan. Semoga Allah masih memegang hatinya.

"Apa gunanya hidup kalau diri tak menjadi hamba yang baik untuk Allah," Pelajar itu menyambung dengan nada yang terputus-putus. Sejurus kemudian, mulutnya terpaku. Tiada lagi bunyi yang keluar dari peti suaranya. Lama dia membisu. Air mata mudanya kelihatan tumpah ke pipi.

Saya merenung ke permaidani merah yang menutupi lantai marmar masjid. Bermuhasabah sambil menyusun kata. Saya terus merenung, sedang adik perempuan tadi setia menunggu ungkapan saya.

Mohon diberi petanda arah menuju ke jalan keluar. Seketika kemudian, saya melihat wajahnya yang sayu. Matanya merah. Pipinya basah. Uraian air mata yang berterjunan di pipi diseka. Dia tunduk. Malu. Malu dengan diri sendiri.

"Liz, Allah itu Maha Pengasih, Maha Penyayang. Beruntunglah Liz kerana masih mampu menangis di sini, sekalipun tidak mampu menangis selepas solat." Sengaja saya berkata sedemikian. Mahu menyedarkan dia bahawa dirinya masih mempunyai hati. Hati yang masih mampu menangis apabila disentuh.

"Duduk dan bermuhasabahlah lagi. Mungkin jiwa kita belum cukup ikhlas untuk memohon keampunan. Mungkin hati kita tidak benar-benar ikhlas memohon taubat. Siapa tahu, dalam kita bersabar meminta ampun dan taubat, Allah mengizinkan hati kita untuk menangis." Saya memberi pandangan.

"Liz, Allah tidak mematikan Liz sekarang kerana Allah masih sayangkan Liz. Liz masih ada ruang. Liz masih ada peluang. Berdoa meminta agar dimatikan segera itu salah. Salah besar!" tegas saya.

Air matanya yang deras mengalir sebentar tadi berhenti. Terjaga dari lena sangkaan yang salah.

"Allah meminta kita berusaha, bukannya mengalah. Jangan meminta diri dimatikan hanya kerana tidak mampu menangis apabila mengenang dosa. Jangan meminta dimatikan sedangkan diri tidak dalam keimanan."

"Rugi besarlah kita andainya di akhirat kelak, antara kita dengan syurga jaraknya tinggal sehasta, tapi takdir telah mendahului dan kita dicampakkan ke neraka. Kenapa?" Saya meninggalkan persoalan di hujung peringatan yang panjang-lebar. Semua mata yang hadir dalam pertemuan petang itu tertumpu ke arah saya.

"Sebab, kita tidak mengakhiri kehidupan dengan kebaikan. Sia-sia sahaja kita beramal sepanjang hidup, tapi di akhir kehidupan kita tidak berada dalam keimanan. Na'uzu billahi."

Pelajar perempuan itu mengangguk-angguk. Dia kelihatan yakin untuk meneruskan kehidupan. Kini, dia sedar bahawa sangkaannya agar lebih baik mati adalah salah.

'Ya Allah, ampunkanlah dosa adik ini. Ampunkanlah dosa semua manusia yang berada dalam pertemuan ini.' Saya berdoa di dalam hati, sendirian.

Allah, sungguh aku berpandangan bahawa mereka lebih baik daripadaku!' Semoga Allah menghimpunkan kami dalam rahmat dan berkat. Amin, Ya Rabbal 'Alamin.

Pesanan Kekasih Agung :

Daripada Abu Abdul Rahman Abdullah ibn Mas'uud r.a. beliau berkata: Rasulullah S.A.W telah bersabda, dan baginda adalah seorang yang benar lagi dibenarkan: "Sesungguhnya setiap orang di kalangan kamu dihimpunkan kejadiannya dalam perut ibunya selama 40 hari berupa air mani, kemudian menjadi segumpal darah selama tempoh yang sama, kemudian menjadi seketul daging selama tempoh yang sama, kemudian dikirimkan kepadanya seorang malaikat lalu dia menghembuskan padanya roh dan dia diperintahkan dengan empat kalimat; iaitu supaya menulis rezekinya, ajalnya, amalannya dan adakah dia celaka atau bahagia. Demi Allah Yang tiada Tuhan melainkan-Nya, sesungguhnya salah seorang dari kalangan kamu akan beramal dengan amalan ahli syurga, sehingga jarak antaranya dan syurga tidak lebih dari sehasta, lalu dia didahului oleh ketentuan tulisan kitab lantas dia mengerjakan amalan ahli neraka lalu dia memasuki neraka. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalangan kamu akan beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga jarak antaranya dengan neraka tidak lebih dari sehasta, lalu dia didahului oleh ketentuan tulisan kitab lantas dia mengerjakan amalan ahli syurga lalu dia memasuki syurga." (HR al-Bukhari; 3036 dan Muslim; 2643)

Saya menulis babak muhasabah ini di sini dengan harapan yang sederhana. Sangat sederhana. Semoga kita lebih mengingati-Nya setelah banyak dosa yang kita lakukan.

Saya menulis babak muhasabah ini di sini bukan kerana sudah mampu mengingati-Nya dengan sempurna, tetapi kerana berharap agar catatan sederhana ini terhitung sebagai langkah untuk saya mendekati-Nya. Sungguh, saya sangat terkesan dengan luahannya




Bukan Milik Kita



~>> Ya Allah..jika Kau TIDAK IZINKAN cintaku untuk jatuh pada hatinya, tidak mengapalah..tapi aku BERHARAP Kau jatuhkanlah hatinya pada insan yang bakal memimpinnya ke SYURGA, pada saat dia betul-betul bersedia..pintaku, janganlah dia DILUKAI LAGI..

Biar patah hati, jangan patah IMAN..♥♥

Untuk CINTA yang TIDAK PERNAH KITA MILIKI, ingatlah bahawa setiap sesuatu yang sangat kita sayang itu, segalanya hanya MILIK Dia..

Thursday, October 18, 2012

Tersirat Seribu Kemanisan


Assalamualaikum, teman teman kerinduan hati, moga kalian dalam lindungan Yang Maha Pengasih ILAHI

Masa yang berlalu silih berganti berlalu meninggalkan kita dalam kenangan yang tidak akan pernah kembali. Alhamdulillah , masa yang cepat berlalu menjadikan saya menghargai masa lebih dari baik. Subhanaallah nikmatnya masa senang, mungkin inilah yang amat Rasulullah s.a.w tekankan kejarlah masa lapangmu sebelum datang masa sempitmu.

“ Lapang sebelum sempit – Waktu anda masih ada kelapangan inilah waktu yang paling sesuai mendalami ilmu agama untuk pedoman anda”

Pada waktu yang lapang inilah, kita sebagai hamba allah perlu untuk menghargainya. Bila dah datang waktu sibuk, susahlah nanti nak mengejar itu ini. Hal ini terjadi pada saya sendiri, ujian Allah bertandang seminggu pada saya pada minggu konvokesyen uum ke-25 2012. Pada saat itu, saya belajar menghargai masa. Dalam tempoh 24jam, saya harus membahagikan masa untuk uruskan bisnes tapak ekpo, kuliah, dan assignment, dan sebagainya. Subahanaallah, pada saat itu, hati terdetik indahnya nikmatnya waktu lapang kurniaan allah. Terasa rindu untuk bermunajat padanya.  Doa ini Saya pohon pada ALLAH yang Maha Pemberi

 “walaupun driku sibuk menguruskan hal dunia jadilah hatiku setiasa merindu dan mencintaimu Ya Rabhi”

 Alhamdulillah dalam sibuk sibuk pon masih sempat membaca surah2 lazim sambil membonceng motor. Terasa damai dihati, hanya insan yang pernah merasai akan terkesan di hati.

Ujian ALLAH, datang memberi hikmah pada saya untuk menghargai masa lapang yang dianugerahkan. Ya Allah, nikmatnya masa lapangmu. Dalam tempoh seminggu Konvokesyen uum ke25, saya beroleh pelbagai manfaat. Belajar menjadi pengurus yang bertolak ansur, sabar dengan kerenah pelanggan dan paling terkesan di hati sabar dalam berukhwah. Pada hari terakhir konvokesyen, nak ditakdirkan Allah hari tersebut juga saya perlu menyiapkan assignment subjek public speaking untuk presentation keesokan harinya. Sebelum mengambil keputusan untuk berniaga dah terdetik mampukah aku??? Assignment, kuliah dan bisnes dalam tempoh seminggu. Namun datang satu kekuatan , anugerah ALLAH dihadiahkan melalui UMMI, itulah kekuatan saya “UMMI”. Saya call UMMI, mohon kata kata semangat darinya, pada saat itu UMMI sakit. Ya allah terasa sayu hati, mengenangkan ummi berkerja mencari rezeki sehingga sakit tidak dirisaukan. Kekuatan dan kesusahan ummi saya jadikan sumber kekuatan hati. Demi ummi saya akan turut berkorban. Hati yang gundah tiba tiba berkata “yakin saya boleh!!!”

Alhamdulillah, hadiah kekuatan ini saya tempuhi seminggu konvokesyen day dan assignment presentation berjalan dengan baik. Walaupun, sedikit tidak puasa hati pada presentation public speaking, sekurang kurang ALLAH swt dah mudahkan urusan saya.
Hari terakhri konvokesyen berakhir pada jam 12.30 pagi, dan saya selasai mengemas barang sekitar jam 3.30 pagi hasil pertolongan sahabat-sahabat. Tanpa bantuan sahabat sahabat perjuangan, mungkin saya tidak di sini. Mereka bagaikan utusan ALLAH mnjadi kaki kedua saya.  Hanya ALLAH yang mampu balas jasa kalian. Pada jam 3.30 pagi itu juga, saya terus siapkan persiapan presentation public speaking yang bermula 8.00pagi. Allahu rabhi, dengan tubuh yang kepenatan saya kuatkan semangat. Allahmdulillah, semua berjalan lancar. Syukur padaMu ya rabhi.

Kenangan selama seminggu minggu konvokensyen, akan tersemat indah dalam memori kehidupan. Alhamdulillah, kepenatan dan pengorbanan dihargai. Hasilnya saya beroleh anugerah ini “gerai keseluruhan terbaik ketegori pelajar” yang saya sendiri tidak pernah impikan. Bagi saya anugerah ini masih tidak mampu saya miliki, masih banyak yang perlu saya pelajari. 

Moga inilah titik tolak permulaan dan langkah pertama kejayaan saya.




Kata kata yang akan sentiasa pegang (insyaallah)
    * Belajar menghargai masa lapang
     *Bersabar dalam ujian ALLAH, pasti tersirat seribu kemanisan
     *UMMI, kau malaikat utusan ALLAH “sumber kekuatan redhamu redha tuhan”
                                    


Monday, October 1, 2012

Saya dan Tudung


Tudung. Tudung. Tudung.
Bermacam-macam rupa yang boleh kita lihat sekarang kerana semuanya mahu mengikut peredaran fesyen semasa.

Ada yang belitnya dari kiri ke kanan, ke atas ke bawah, disilangnya ke sana, ke mari. Cantik! Namun SAYANG kebanyakannya tidak mengikut syariat.

Saya dahulu salah seorang dari yang gemarkan fesyen-fesyen lilit-lilit pusing-pusing itu semua. Perempuan mana yang tak mahu kelihatan cantik menarik!

Tambah lagi apabila pengalaman hidup yang saya lalui, berhadapan dengan orang tudung labuh yang berperangai sama macam yang bertudung tak mengikut syariat. Ada yang lebih teruk! Jadi? Kesimpulan awal saya ialah "Ahhh sama je orang tudung biasa dengan tudung labuh. Baik pakai macam biasa, macam kebanyakan orang lain pakai. Nanti bertudung labuh, tak boleh nak gila-gila!"
Namun jauh di sudut hati, ada satu rasa yang bergetar – ada sesuatu yang menarik tentang tudung labuh.

Allah sayang saya. Amat sayang.
Hampir setiap hari dalam hidup, Allah temukan saya dengan artikel-artikel tentang erti sebenar tudung. Saya mula perlahan-lahan, dari tudung yang berbagai fesyen itu, saya tutupkan dada. Masih dengan tudung biasa! Dalam hati, "OK, cukup dah ni". Namun masih sentiasa bermohon pada Allah supaya dilimpahi hidayah-Nya.
Allah masing sayang saya, terlalu sayang.

Allah bukakan mata saya, untuk melihat betapa indahnya, betapa selamatnya bertudung labuh. Allah kenalkan saya dengan insan-insan bertudung labuh, yang masih lagi gila-gila, namun terbatas pergaulan mereka, yang terjaga tatasusila.

Saya seorang yang cerewet, tidak suka pada telekung-telekung di mall yang berbau, berdaki. Allah tunjuk pada saya, apabila bertudung labuh, lebih mudah, lebih selesa untuk saya solat, kerana aurat saya sudah terjaga! Tidak perlu lagi telekung-telekung berbau berdaki itu semua.

Saya seorang yang akan hilang rasa hormat pada lelaki-lelaki yang bersiul-siul pada perempuan di tepi-tepi jalan, yang lalu di hadapan mereka. Sangat tidak hormat! Tetapi Allah tunjuk pada saya, apabila bertudung labuh, lelaki-lelaki itu tidak berani buat begitu.
Saya nekad. Dengan hanya dua helai tudung berbidang 60" yang mampu saya beli, saya sarungkan. Terasa betapa Allah sayang saya. Saya rasa sangat selamat dalam dakapan tudung labuh, yang satu masa dulu saya pandang hanya sebelah mata.
Saya sekarang bertudung labuh, tetapi masih gila-gila! Bertudung labuh bukan bererti saya alim. Saya juga masih tercari-cari cahaya. Tetapi tudung labuh itu membantu saya, dalam gila-gila, saya ingat untuk menjaga batas-batas, tatasusila. Yang mendekatkan saya pada cahaya, bukan gelita. Saya malu untuk buat perkara sia-sia, malu jika saya dipandang manusia lain sepertimana saya memandang perempuan bertudung labuh yang "perangai tak serupa tudung" suatu masa dulu.

Tudung labuh itu bukan tanda seseorang itu alim, tetapi itu pelindungnya dari perkara-perkara yang tidak baik. Moga dari kerana tudung, hati saya juga terjaga, akhlak saya dipelihara, akidah saya makin teguh pada-Nya.

Moga saya istiqamah! Moga akhlak saya seindah tudung saya! Amin Ya Rabb!

sekarang siapa pun saya itu tidak penting yang penting bagaimana iman saya sekarang !!!